Anda pengguna lensa kontak? Sebelum anda menggunakan make-up, simak beberapa tips berikut :
1. Gunakanlah lensa kontak anda sebelum merias wajah dan memakai berbagai krim/lotion untuk tubuh maupun tangan. Hal ini untuk menghindari kosmetik ato krim menempel pada lensa kontak karena kandungan minyak yang terdapat di dalam krim akan merusak lensa kontak anda.
2. Jangan menggunakan bulu mata palsu yang terlalu tebal karena seratnya dapat mengakibatkan iritasi pada permukaan lensa kontak.
3. Jangan menggunakan maskara yang tahan air (waterproof) karena maskara jenis ini sulit dibersihkan dengan air. Jika menempel pada lensa kontak anda, akan sulit untuk menghilangkannnya.
4. Bila anda ingin menggunakan hairspray, gunakan setelah anda memasang lensa kontak. Tapi, jika memang terpaksa, saat anda menyemprotkan hairspray, tutup mata anda sampai beberapa detik setelah anda menyemprotkannya.
Bisnis Cantik
Sabtu, 25 Juni 2011
Jumat, 24 Juni 2011
Tips Menyamarkan Uban
Masih berasa muda, tapi uban di kepala sudah tidak kompromi lagi, pengen cepat-cepat nongol? :)
Ikuti tips-tips di bawah ini untuk menyamarkan uban, sehingga anda pun tetap pede tampil dengan rambut cantik.
Uban memang tidak dapat dicegah kemunculannya, tapi pasti bisa di samarkan dengan pewarnaan rambut.
Yang perlu diingat, pewarnaan rambut ini adalah kegiatan yang berkesinambungan. Karena rambut terus tumbuh, yang artinya uban juga akan bermunculan, dan harus di samarkan terus, sampai anda tiba pada saat dimana anda merasa tidak perlu untuk menyamarkannya lagi.
Beberapa orang memiliki kulit kepala yang sensitif yang bila terkena pewarna rambut, akan dapat menimbulkan iritasi pada kulit kepala.
Karena itu sebelum melakukan pewarnaan, sebaiknya anda melakukan tes terlebih dahulu dengan cara menempelkan setetes obat pewarna rambut pada kulit di belakang telinga. Bila kulit terasa panas dan memerah, jangan lakukan pewarnaan dengan cat tersebut.
Untuk mewarnai rambut beruban, perhatikan terlebih dahulu berapa banyak uban yang tumbuh di kepala kita. Ada 2 macam pewarnaan yg bisa dipilih :
1. Bila uban yang tumbuh kurang dari 30%, kita dapat melakukan pewarnaan temporari/tidak permanen. Cat rambut untuk pewarnaan ini memiliki formula yang sangat ringan. Dengan pewarnaan ini, bagian rambut yang tidak beruban tidak rusak, malah akan tambah lebih mengkilap. Namun, pewarnaan ini hanya bertahan hingga 20x pencucian.
2. Bila jumlah uban kita lebih dari 50%, bisa lakukan pewarnaan permanen, hingga uban akan tertutup 100%. Bila rambut yang telah di cat itu mulai panjang (antara 1-3 bulan) sehingga uban kembali tampak (pada pangkal rambut), lakukan pewarnaan kembali (retouch) dengan cara pewarnaan temporari. Bila rambut semakin panjang, lakukan pewarnaan permanen sekali lagi.
Yang perlu diingat, pengecatan permanen kedua, minimal 6 bulan setelah yang pertama. Karena, sebaik apapun mutu cat rambut, bila dipakai terus menerus dalam waktu berdekatan, akan mengakibatkan rambut kering dan mudah patah.
Cara lain dalam melakukan retouch, rambut yang diberi pewarna cukup bagian yang beruban saja. Bila uban yang muncul masih pendek dan halus, retouch bisa dilakukan dengan menggunakan color stick (cat rambut berbentuk pensil) atau hair color spray (cat rambut yang di semprotkan).
Perawatan Rambut yang Telah di Cat
- Kondisi rambut yang telah diwarnai harus dijaga agar warna tidak cepat pudar dan rambut tetap sehat. Salah satu perawatan yang cukup penting adalah dengan melakukan creambath atau hair mask secara teratur.
- Jangan melakukan pewarnaan dan pengeritingan dalam selang waktu kurang dari 2 minggu.
- Minum vitamin B, kalsium dan fosfor atau konsumsi buah dan sayuran agar dapat menjaga kesehatan rambut daan kulit kepala. Mengkonsumsi protein seperti daging dan telur juga bermanfaat untuk rambut karena rambut terdiri dari keratin yang berasal dari protein.
- Bila uban tumbuh pada alis atau bulu mata, jangan gunakan pewarna rambut untuk menghitamkannya, karena cat rambut dapat menimbulkan kerusakan pada mata. Gunakan saja maskara atau pensil alis.
Ikuti tips-tips di bawah ini untuk menyamarkan uban, sehingga anda pun tetap pede tampil dengan rambut cantik.
Uban memang tidak dapat dicegah kemunculannya, tapi pasti bisa di samarkan dengan pewarnaan rambut.
Yang perlu diingat, pewarnaan rambut ini adalah kegiatan yang berkesinambungan. Karena rambut terus tumbuh, yang artinya uban juga akan bermunculan, dan harus di samarkan terus, sampai anda tiba pada saat dimana anda merasa tidak perlu untuk menyamarkannya lagi.
Beberapa orang memiliki kulit kepala yang sensitif yang bila terkena pewarna rambut, akan dapat menimbulkan iritasi pada kulit kepala.
Karena itu sebelum melakukan pewarnaan, sebaiknya anda melakukan tes terlebih dahulu dengan cara menempelkan setetes obat pewarna rambut pada kulit di belakang telinga. Bila kulit terasa panas dan memerah, jangan lakukan pewarnaan dengan cat tersebut.
Untuk mewarnai rambut beruban, perhatikan terlebih dahulu berapa banyak uban yang tumbuh di kepala kita. Ada 2 macam pewarnaan yg bisa dipilih :
1. Bila uban yang tumbuh kurang dari 30%, kita dapat melakukan pewarnaan temporari/tidak permanen. Cat rambut untuk pewarnaan ini memiliki formula yang sangat ringan. Dengan pewarnaan ini, bagian rambut yang tidak beruban tidak rusak, malah akan tambah lebih mengkilap. Namun, pewarnaan ini hanya bertahan hingga 20x pencucian.
2. Bila jumlah uban kita lebih dari 50%, bisa lakukan pewarnaan permanen, hingga uban akan tertutup 100%. Bila rambut yang telah di cat itu mulai panjang (antara 1-3 bulan) sehingga uban kembali tampak (pada pangkal rambut), lakukan pewarnaan kembali (retouch) dengan cara pewarnaan temporari. Bila rambut semakin panjang, lakukan pewarnaan permanen sekali lagi.
Yang perlu diingat, pengecatan permanen kedua, minimal 6 bulan setelah yang pertama. Karena, sebaik apapun mutu cat rambut, bila dipakai terus menerus dalam waktu berdekatan, akan mengakibatkan rambut kering dan mudah patah.
Cara lain dalam melakukan retouch, rambut yang diberi pewarna cukup bagian yang beruban saja. Bila uban yang muncul masih pendek dan halus, retouch bisa dilakukan dengan menggunakan color stick (cat rambut berbentuk pensil) atau hair color spray (cat rambut yang di semprotkan).
Perawatan Rambut yang Telah di Cat
- Kondisi rambut yang telah diwarnai harus dijaga agar warna tidak cepat pudar dan rambut tetap sehat. Salah satu perawatan yang cukup penting adalah dengan melakukan creambath atau hair mask secara teratur.
- Jangan melakukan pewarnaan dan pengeritingan dalam selang waktu kurang dari 2 minggu.
- Minum vitamin B, kalsium dan fosfor atau konsumsi buah dan sayuran agar dapat menjaga kesehatan rambut daan kulit kepala. Mengkonsumsi protein seperti daging dan telur juga bermanfaat untuk rambut karena rambut terdiri dari keratin yang berasal dari protein.
- Bila uban tumbuh pada alis atau bulu mata, jangan gunakan pewarna rambut untuk menghitamkannya, karena cat rambut dapat menimbulkan kerusakan pada mata. Gunakan saja maskara atau pensil alis.

Rabu, 22 Juni 2011
Manicure & Pedicure
Berikut step by step untuk mempercantik kuku tangan dan kaki anda tanpa harus menghabiskan waktu anda di salon :
1. Hapus cat kuku lama.
2. Cuci dan rendam tangan / kaki anda dengan air hangat selama 10 menit agar kulit kuku lembut.
3. Gunting kuku tangan sesuai keinginan, jangan terlalu pendek dan panjang. Untuk kaki, gunting kuku tak melebihi ujung jari.
4. Haluskan ujung kuku yang kasar dan tajam dengan pengasah. Bersihkan kutikula di pinggiran kuku dengan alat khusus.
5. Lembutkan tangan dan kaki dengan hand/foot cream/lotion lalu lanjutkan dengan menggosokkan hand/foot scrub agar kulit mati hilang.
6. Cuci bersih dan pijat dengan menggunakan hand/foot scrub lagi agar tangan dan kaki rileks.
7. Gunakan base coat sebelum menggunakan cat kuku untuk melindungi kuku sekaligus agar cat kuku bisa bertahan lebih lama.
8. Sebelum menggunakan cat kuku, pisahkan jari-jari dengan tisu atau kapas.
9. Sapukan cat kuku, dan setelah kering, lapisi dengan top coat untuk melindungi kuku sekaligus mempercantik penampilan cat kuku anda.
Selasa, 21 Desember 2010
Saat Aku....
Saat aku dilahirkan, ia memelukku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menangis sejadi-jadinya.
Saat aku berusia 1 thn, ia memberiku makan dan memandikanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menangis sepanjnag malam.
Saat aku berusia 2 tahun, ia mengajariku berjalan.
Aku berterima kasih kepadanya dengan neghindar saat ia memanggilku.
Saat aku berusia 3 tahun, ia menyiapkan makanan untukku dengan penuh kasih.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menjatuhkan piringku ke lantai.
Saat aku berusia 4 tahun, ia memberiku pensil warna.
Aku berterima kasih kepadanya denga mencorat-coret tembok rumahku.
Saat aku berusia 5 tahun, ia memberiku baju baru untuk merayakan hari raya.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengotorinya dengan lumpur.
Saat aku berusia 6 tahun, ia mengantarku ke sekolah.
Aku berterima ksih kepadanya dengan berteriak, "Aku tidak mau sekolah".
Saat aku berusia 7 tahun, ia membelikanku boneka.
Aku berterima kasih kepadanya denga bertengkar dan saling rebut dengan saudaraku.
Saat aku berusia 8 tahun, ia membelikanku es krim.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menumpahkannya di pangkuanku.
Saat aku berusia 9 tahun, ia mengikutkanku kursus piano.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak oernah berlatih.
Saat aku berusia 10 tahun, ia mengantarku kemana-mana--dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rumah teman ke rumah teman yang lain.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak pernah berpaling memandangnya saat berjalan ke tempat tujuan.
Saat aku berusia 11 tahun, ia mengantarku dan teman-temanku ke suatu acara.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memintanya untuk duduk jauh dariku.
Saat aku berusia 12 tahun, ia memperingatkanku untuk tidak menonton acara-acara televisi tertentu.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menunggu sampai ia pergi dari rumah.
Saat aku berusia 13 tahun, ia menyarankan suatu model potongan rambut untukku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan bahwa seleranya buruk.
Saat aku berusia 14 tahun, ia mengizinkanku dan membiayaiku untuk ikut dalam suatu kegiatan retret.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak pernah mengirimkan sms atau meneleponnya hanya untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Saat aku berusia 15 tahun, ia menginginkan sebuah pelukan dariku sepulang kerja.
Aku berterima kasih kepadanya dengan pura-pura tidur di kamar.
Saat aku berusia 16 tahun, ia mengajariku mengendarai motor.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memakai motor tanpa seizinnya.
Saat aku berusia 17 tahun, ia menantikan sebuah telepon penting.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memakai telepon sepanjang malam.
Saat aku berusia 18 tahun, ia menangis bahagia karena aku lulus sekolah.
Aku berterima kasih kepadanya dengan bersenang-senang dengan teman-temanku sepanjang hari untuk merayakan kelulusan kami semua.
Saat aku berusia 19 tahun, ia membiayai kuliahku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan selalu menolak tawarannya untuk mengantarku.
Saat aku berusia 20 tahun, ia bertanya apakah aku sudah punya pacar.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Itu bukan urusanmu, Bu."
Saat aku berusia 21 tahun, ia menyarankan beberapa pilihan karier untuk masa depanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Aku tidak mau jadi seperti Ibu." Atau, "Aku tidak perlu nasihat Ibu, Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang aku suka."
Saat aku berusia 22 tahun, ia memelukku saat acara kelulusan.
Aku berterima kasih kepadanya dengan bertanya, "Ibu, bisa tidak membiayai liburan keluar kota atau keluar negeri sebagai hadiah karena aku lulus?"
Saat aku berusia 23 tahun, ia memberiku sebuah gaun sebagai hadiah ulang tahun.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatainya jelek dan tidak sesuai dengan selera anak muda zaman sekarang di depan teman-temanku.
Saat aku berusia 24 tahun, ia bertemu dengan kekasihku dan bertanya tentang rencana masa depan kami berdua.
Aku berterima kasih kepadanya dengan berkata kesal sambil mata membelalak, "Ibu, tolong jangan bicarakan masalah itu."
Saat aku berusia 25 tahun, ia menangis bahagia saat aku mengucap janji setia kepada pasanganku di altar pernikahanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan jarang sekali mengunjunginya.
Saat aku berusia 30 tahun, ia memberi beberapa saran dalam merawat bayi.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Ibu, zaman sekarang itu sudah berbeda. Caranya bukan lagi seperti yang Ibu dulu lakukan saat merawatku."
Saat aku berusia 40 tahun, ia mengingatkanku akan ulang tahun seorang kerabat.
Aku berterima kasih kepadnya dengan mengatakan kepadanya bahwa aku sedang sangat sibuk sekarang.
Saat aku berusia 50 tahun, ia sakit dan butuh bantuanku utnuk merawatnya.
Aku berterima kasih kepadanya dengan merawatnya sambil menggerutu.
Dan kemudian....
Suatu hari ia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Dan saat itu, setiap hal yang seharusnya aku lakukan namun tidak aku lakukan terlintas di pikiranku bagaikan gemuruh yang tidak berhenti.....
Tidak ada yang bisa menggantikan seseorang yang kita sebut IBU.
Hargai setiap momen bersamanya. Meski terkadang ia mungkin tidak menjadi teman yang baik, tidak selalu setuju dengan pemikiran anda, ia tetap adalah Ibu anda.
Ia akan selalu ada untuk anda; mendengarkan setiap keluhan dan masalah anda.
Mari tanyakan kepada diri kita sendiri, "Sudahkah kita meluangkan cukup waktu untuknya--memperhatikan dan mengasihinya?"
Happy Mother's Day....
*taken from 'Spirit for Woman'
Aku berterima kasih kepadanya dengan menangis sejadi-jadinya.
Saat aku berusia 1 thn, ia memberiku makan dan memandikanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menangis sepanjnag malam.
Saat aku berusia 2 tahun, ia mengajariku berjalan.
Aku berterima kasih kepadanya dengan neghindar saat ia memanggilku.
Saat aku berusia 3 tahun, ia menyiapkan makanan untukku dengan penuh kasih.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menjatuhkan piringku ke lantai.
Saat aku berusia 4 tahun, ia memberiku pensil warna.
Aku berterima kasih kepadanya denga mencorat-coret tembok rumahku.
Saat aku berusia 5 tahun, ia memberiku baju baru untuk merayakan hari raya.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengotorinya dengan lumpur.
Saat aku berusia 6 tahun, ia mengantarku ke sekolah.
Aku berterima ksih kepadanya dengan berteriak, "Aku tidak mau sekolah".
Saat aku berusia 7 tahun, ia membelikanku boneka.
Aku berterima kasih kepadanya denga bertengkar dan saling rebut dengan saudaraku.
Saat aku berusia 8 tahun, ia membelikanku es krim.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menumpahkannya di pangkuanku.
Saat aku berusia 9 tahun, ia mengikutkanku kursus piano.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak oernah berlatih.
Saat aku berusia 10 tahun, ia mengantarku kemana-mana--dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rumah teman ke rumah teman yang lain.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak pernah berpaling memandangnya saat berjalan ke tempat tujuan.
Saat aku berusia 11 tahun, ia mengantarku dan teman-temanku ke suatu acara.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memintanya untuk duduk jauh dariku.
Saat aku berusia 12 tahun, ia memperingatkanku untuk tidak menonton acara-acara televisi tertentu.
Aku berterima kasih kepadanya dengan menunggu sampai ia pergi dari rumah.
Saat aku berusia 13 tahun, ia menyarankan suatu model potongan rambut untukku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan bahwa seleranya buruk.
Saat aku berusia 14 tahun, ia mengizinkanku dan membiayaiku untuk ikut dalam suatu kegiatan retret.
Aku berterima kasih kepadanya dengan tidak pernah mengirimkan sms atau meneleponnya hanya untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Saat aku berusia 15 tahun, ia menginginkan sebuah pelukan dariku sepulang kerja.
Aku berterima kasih kepadanya dengan pura-pura tidur di kamar.
Saat aku berusia 16 tahun, ia mengajariku mengendarai motor.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memakai motor tanpa seizinnya.
Saat aku berusia 17 tahun, ia menantikan sebuah telepon penting.
Aku berterima kasih kepadanya dengan memakai telepon sepanjang malam.
Saat aku berusia 18 tahun, ia menangis bahagia karena aku lulus sekolah.
Aku berterima kasih kepadanya dengan bersenang-senang dengan teman-temanku sepanjang hari untuk merayakan kelulusan kami semua.
Saat aku berusia 19 tahun, ia membiayai kuliahku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan selalu menolak tawarannya untuk mengantarku.
Saat aku berusia 20 tahun, ia bertanya apakah aku sudah punya pacar.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Itu bukan urusanmu, Bu."
Saat aku berusia 21 tahun, ia menyarankan beberapa pilihan karier untuk masa depanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Aku tidak mau jadi seperti Ibu." Atau, "Aku tidak perlu nasihat Ibu, Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang aku suka."
Saat aku berusia 22 tahun, ia memelukku saat acara kelulusan.
Aku berterima kasih kepadanya dengan bertanya, "Ibu, bisa tidak membiayai liburan keluar kota atau keluar negeri sebagai hadiah karena aku lulus?"
Saat aku berusia 23 tahun, ia memberiku sebuah gaun sebagai hadiah ulang tahun.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatainya jelek dan tidak sesuai dengan selera anak muda zaman sekarang di depan teman-temanku.
Saat aku berusia 24 tahun, ia bertemu dengan kekasihku dan bertanya tentang rencana masa depan kami berdua.
Aku berterima kasih kepadanya dengan berkata kesal sambil mata membelalak, "Ibu, tolong jangan bicarakan masalah itu."
Saat aku berusia 25 tahun, ia menangis bahagia saat aku mengucap janji setia kepada pasanganku di altar pernikahanku.
Aku berterima kasih kepadanya dengan jarang sekali mengunjunginya.
Saat aku berusia 30 tahun, ia memberi beberapa saran dalam merawat bayi.
Aku berterima kasih kepadanya dengan mengatakan, "Ibu, zaman sekarang itu sudah berbeda. Caranya bukan lagi seperti yang Ibu dulu lakukan saat merawatku."
Saat aku berusia 40 tahun, ia mengingatkanku akan ulang tahun seorang kerabat.
Aku berterima kasih kepadnya dengan mengatakan kepadanya bahwa aku sedang sangat sibuk sekarang.
Saat aku berusia 50 tahun, ia sakit dan butuh bantuanku utnuk merawatnya.
Aku berterima kasih kepadanya dengan merawatnya sambil menggerutu.
Dan kemudian....
Suatu hari ia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Dan saat itu, setiap hal yang seharusnya aku lakukan namun tidak aku lakukan terlintas di pikiranku bagaikan gemuruh yang tidak berhenti.....
Tidak ada yang bisa menggantikan seseorang yang kita sebut IBU.
Hargai setiap momen bersamanya. Meski terkadang ia mungkin tidak menjadi teman yang baik, tidak selalu setuju dengan pemikiran anda, ia tetap adalah Ibu anda.
Ia akan selalu ada untuk anda; mendengarkan setiap keluhan dan masalah anda.
Mari tanyakan kepada diri kita sendiri, "Sudahkah kita meluangkan cukup waktu untuknya--memperhatikan dan mengasihinya?"
Happy Mother's Day....
*taken from 'Spirit for Woman'
Selasa, 13 Juli 2010
About dBC Network
Banyak yang nanya sama aku,"Kerja dimana sekarang?"
Aku jawab...."dBC Network"
Dia nanya lagi, "apaan tuh?..."
Ato kalo aku nelpon orang...
"Saya dari dBC Network..."
"Apa?..."
"dBC Network, mbak... Pernah dengar?"
"Enggak....apa sih dBC Network?..."
Okay....So.....aku ceritain dikit ya tentang dBC Network...
dBC Network itu adalah suatu komunitas online dari jaringan Multilevel Marketing perusahaan kosmetik Swedia dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Berhubung perusahaan ini dah terkenal, pas aku sebutin namanya....orang langsung bereaksi..."Oooo, yg itu..."
Pasti yang dipikirannya sama seperti waktu aku diajak teman untuk bergabung kurang lebih hampir 5 tahun yang lalu..... 'anti MLM.... gak bisa jualan door to door...."
Eitssss...... tunggu dulu,
dBC Network menawarkan cara baru dalam menjalankan bisnis ini.
Karena dijalankan secara online, maka para member yang tergabung dalam dBC Network kebanyakan tidak perlu lagi merayu prospek atau melakukan presentasi. Karena dalam dBC Network, 90 % pekerjaan dilakukan oleh sistem yang sudah dirancang khusus oleh founder dBC Network, Dini Shanti dan Nadia M Yuniardo.
Yang perlu dilakukan para konsultan adalah mengalihkan belanja bulanan dan membantu mendaftarkan prospek yang secara garis besar disebut "4 Simple Step dBC Network", yaitu :
1. Menjadi member lewat d'BC Network
2. Mengalihkan belanja bulanan ke produk kosmetik dan body&hair care ke prdk yg ditawarkan oleh perusahaan kami, sebesar 75 bp setiap bulan
3. Mencari 4 orang yang mau melakukan hal yang sama (mayoritas dikerjakan oleh sistem)
4. Membantu dan membimbing downline (mayoritas dikerjakan para leader)
Sejak didirikan pada tahun 2006, tercatat pada bulan Juni 2010, dBC Network telah menghasilkan :
Senior Manager = 42 orang Penghasilan min. 5 juta/bulan
Gold Director = 4 orang Penghasilan min. 9 juta/bulan
Open Gold Director = 9 orang
Open Senior Gold Director = 4 orang Penghasilan min. 12 juta/bulan
Open Sapphire Director = 1 orang
Sapphire (Open Diamond Director) = 2 orang Penghasilan min. 20 juta/bulan
Open Senior Diamond Director = 1 orang Penghasilan min. 45 juta/bulan
Itu belum termasuk puluhan manager yang penghasilan per bulannya berkisar antara 1- 3 juta per bulan serta ratusan konsultan.
Sooo.... tunggu apa lagi??? Ayo, jadilah bagian dari keluarga besar dBC Network dan pastikan anda pun meraih impian-impian anda bersama kami, apapun itu...

Masih mau lihat yang lebih lagi tentang dBC Network?
Ada cerita2 bunda yang udah sukses lho...
Klik disini ya.....
Sssssstttt.....
Mau liat oleh2 yang aku dapat dari leaderku yang barusan balik dari liburan gratis di Stockholm?
Klik disini !!!
Langganan:
Postingan (Atom)

